Senin, 09 Februari 2015

Whispering Skull - Dengarkan Dengan Hati-Hati

Halo kawan-kawan!
Lima bulan sudah berlalu sejak saya terakhir kali menulis artikel di blog ini. Sebenarnya ada banyak alasan di balik ketidakaktifan saya menulis, tapi saya rasa tidak perlu dijabarkan di sini. Yang jelas, saya masih sehat dan menggeluti dunia penerbitan. Alhamdulillah.

Beberapa waktu lalu Bapak Nukman Luthfi (@nukman) berkunjung ke kantor penerbit kami dan berbagi materi yang mencerahkan. Singkatnya, salah satu perkataan beliau membuat saya bertekad untuk berusaha rajin menulis artikel di blog. Ya...setidaknya sebulan sekali deh! :D

Sekarang, berhubung saya baru selesai membaca sebuah novel fantasi yang berkesan, saya tulis tentang itu saja ya. Judul bukunya Whispering Skull, diterjemahkan menjadi Tengkorak Berbisik, karya Jonathan Stroud, dan di Indonesia diterjemahkan oleh Mbak Poppy Chusfani (yang juga menerjemahkan karya Stroud lainnya, trilogi Bartimaeus), kemudian diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Whispering Skull adalah buku kedua dalam seri Lockwood & Co. Buku pertamanya berjudul Screaming Staircase atau Undakan Menjerit. Saya tidak menulis ulasan menyeluruh tentang Screaming Staircase, hanya sedikit kesan di Goodreads.


Lockwood & Co.

Ceritanya, London di masa depan mengalami wabah hantu. Untuk mengatasinya, bermunculan agensi-agensi pembasmi hantu, dan salah satunya adalah Lockwood & Co. Kebetulan saja Lockwood & Co. adalah agensi terkecil di London, dengan hanya tiga orang anggota: Anthony Lockwood, George Cubbins, dan Lucy Carlyle.

Lockwood sejak awal memang menjadi tokoh yang paling misterius (dan karismatik), tapi dia belum berhasil mencuri hati saya. Ya, awalnya saya penasaran dengan masa lalunya, tapi kemudian saya jadi tidak peduli... dia boleh membawa rahasianya itu ke liang kubur. Satu hal yang saya suka dari Lockwood adalah kemandiriannya. Dia berani membuka agensi sendiri dan tidak terikat agensi besar seperti Agensi Fittes atau Rotwell, sehingga dia bisa bergerak lebih bebas dan bisa lebih mengambil risiko.

George adalah orang yang paling rajin mengerjakan PR. Maksudnya, dialah yang melakukan riset sebelum agen-agen di Lockwood & Co. mendatangi TKP. Sebelumnya, George bergabung dengan Agensi Fittes, tapi dia dipecat. Mungkin karena penampilannya terlalu berantakan. Yang pasti, George memang lebih peduli pada dokumen-dokumen risetnya dibandingkan pada pakaiannya. Awalnya saya suka dengan sikap sarkastis George, tapi lama-lama jadi mengesalkan.

Lucy tampaknya begitu terpesona dengan Lockwood, dan dia kesal karena pemuda itu tidak bisa lebih terbuka kepadanya (dan George). Seperti yang sudah saya duga, kemampuan psikis Lucy berkembang. Sayangnya, dia tidak sabaran dan terkesan ceroboh. Sebagai tokoh utama, di mana pembaca melihat dunia melalui persepsi gadis ini, karakter Lucy kurang berkesan.



Tengkorak Misterius nan Menyebalkan

George punya sebuah wadah kaca berisi tengkorak berhantu, yang dia curi dari suatu tempat. Salah satu hobinya adalah bereksperimen dengan tengkorak ini, makanya dia antusias sekali ketika tahu hantu tengkorak dapat berkomunikasi dengan Lucy yang memang memiliki daya dengar kuat. Banyak sekali hal yang ingin George tanyakan pada si tengkorak, tapi tengkorak itu malah melontarkan ejekan-ejekan padanya (dan juga pada Lockwood). Walaupun menyebalkan, tak bisa dipungkiri bahwa tengkorak ini ikut andil dalam menyelesaikan kasus yang diangani Lockwood & Co. Ke depannya, mungkin tengkorak ini masih akan tetap ada, dan menyaingi sikap sarkastis George.

Momen Mencekam

Alasan utama saya membaca seri Lockwood & Co. tentu saja karena tema utamanya hantu! Jenis cerita kesukaan saya. Screaming Staircase sudah sukses membuat saya merinding sejak awal, tetapi Whispering Skull tidak seperti itu. Hanya ada satu momen yang menurut saya cukup mengerikan (itu pun kalah jauh dengan hantu Red Room di buku pertama), yakni ketika agen-agen Lockwood & Co. berpetualang ke rumah kosong mendiang dr. Bickerstaff dan berurusan dengan hantu beserta tikus-tikus. Sebenarnya saya berharap mereka bertualang juga ke bekas sanatorium, tapi itu tidak relevan. Hahaha.

Desain Sampul dan Isi

Sampulnya... saya suka. Masih didominasi dengan warna hitam, lalu ada warna hijau misterius yang membentuk retakan. Dan tentu saja, ada tengkorak yang menyebalkan :p karena dia mengintip dari balik retakan. Desain isinya juga oke, apalagi ada ilustrasi di awal setiap bab.

Sedikit Terlalu Banyak

Biasanya saya tidak terlalu ribut soal typo atau kesalahan penulisan dan ejaan, tapi di buku ini jumlah typo yang saya temukan begitu mengganggu kenyamanan membaca. Sangat disayangkan, karena buku ini termasuk buku yang amat ditunggu-tunggu oleh pembaca. Semakin tinggi harapan, semakin besar kekecewaan yang didapat. Semoga di cetakan berikutnya kesalahan-kesalahan ini dapat diperbaiki. Berikut ini typo yang saya temukan:

54: sediri (sendiri)
60: menganggu (mengangguk), kepengin (kepingin)
76: pajang (panjang)
91: tersadung (tersandung)
114: arau (parau)
133: keragka (kerangka)
134: seseoran (seseorang)
153: kepengin (kepingin)
176: degan (dengan)
181: gads (gadis)
212: kektakutan (ketakutan)
222: pensl (pensil)
246: paragraf kelima dari atas, ucapan si tengkorak seharusnya cetak miring.
286: mmang (memang), lagit (langit)
287: memercayaiya (memercayainya), Da (Dan)
292: tangaku (tanganku)
303: bertaya (bertanya)
307: isntruksi (instruksi)
310: paragraf terakhir, ucapan Lockwood kurang tanda kutip.
312: Flo Barnes (Flo Bones)
342: depat (cepat)
345: mengggaruk (menggaruk)
346: melucur (meluncur)
359: utamannya (utamanya), paragraf keempat dari bawah kelebihan kata ‘itu.’
361: pounsterling (poundsterling)
369: Wikman (Winkman)
385: Bickserstaff (Bickerstaff), seakaan (seakan)
388: seberangk (seberangku)
390: paragraf ketujuh, ucapan si tengkorak seharusnya cetak miring.
401: telepak (telapak), Masti (Pasti)
410: degan (dengan), tepantul (terpantul)
415: paragraf kelima dari bawah, kalimat ‘mereka memohon’ seharusnya cetak tegak.
418: paragraf ketiga dari bawah, ucapan si tengkorak harusnya cetak miring.
425: memuat (membuat)
426: bagaiman (bagaimana), paragraf ketiga dari bawah, kata ‘lihat… lihat…’ harusnya cetak miring.
436: berrguling (berguling)
437: beryun (berayun)
438: Bicksertaff (Bickerstaff)
440: Tegkorak (Tengkorak)
446: tejadi (terjadi)
454: [di dalam artikel] megarah (mengarah)
456: Bickserstaff (Bickerstaff)

469: Hermanifestasi (Bermanifestasi)

Akhir Kata

Walaupun Whispering Skull tidak dapat mengalahkan kengerian Screaming Staircase, secara keseluruhan kisahnya seru. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi di buku berikutnya, The Hollow Boy, yang kabarnya akan dirilis pada Bulan September 2015.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar