Kamis, 25 Februari 2016

Crimson Peak - Mansion di Atas Tanah Merah

Selamat Hari #KamisHoror :)
Kali ini saya akan membahas salah satu film horor yang sudah cukup lama rilis, dan sudah tidak tayang lagi di bioskop. Judulnya adalah Crimson Peak.

Pertama kali saya tahu Crimson Peak adalah lewat serangkaian poster film yang muncul di situs impawards.com. Saya suka dengan desain posternya, yang menampilkan keempat tokoh utama dalam film tersebut.

Sumber: impawards.com
Yang paling menarik perhatian saya adalah Mia Wasikowska, yang telah membuat saya jatuh cinta dengan aktingnya sebagai seorang psikopat di film Stoker.
Terhadap Tom Hiddleston saya biasa-biasa saja, walaupun perannya sebagai bad guy Loki sudah membius banyak orang, terutama kaum wanita.
Jessica Chastain namanya sering saya dengar, tapi saya lupa film apa saja yang dia bintangi dan pernah saya tonton. Hmmm... Apakah Tall Man? Oh, itu Jessica Biel :p
Charlie Hunnam namanya belum pernah saya dengar, tapi wajahnya nampak familier.

Begitu Crimson Peak mulai tayang di bioskop, saya antusias untuk menontonnya, bahkan sudah mengajak suami untuk nonton malam-malam. Tapi apa daya, waktunya tidak ada yang pas dan saya pun batal menonton film ini di layar lebar.

Kenyataannya, saya kemudian malah menonton film ini di layar yang jauh lebih kecil... yaitu layar ponsel -_- Saya menontonnya belum lama ini secara streaming di sebuah situs yang direkomendasikan oleh adik saya.

Alur cerita Crimson Peak sebenarnya mudah ditebak, tapi saya tetap menontonnya dari awal sampai akhir karena saya suka dengan atmosfer yang disajikan. Lokasi-lokasinya, kostum-kostum yang digunakan, bahkan penampakan hantu-hantunya. Secara keseluruhan, saya memberi Crimson Peak 3/5 bintang.


Gadis Kesayangan Papa

Dalam Crimson Peak, Mia memerankan seorang gadis bernama Edith Cushing, putri tunggal seorang pengusaha kaya raya. Ibunya meninggal saat Edith masih kecil, gara-gara sakit black fever. Edith kecil sempat didatangi oleh arwah sang ibu, yang memberinya sebuah peringatan: "Beware of Crimson Peak." Tapi peringatan itu tentu saja tak bermakna apa-apa bagi Edith kecil yang sedang ketakutan setengah mati.

Sumber: blackroomsociety.com

Singkatnya, Edith tumbuh menjadi gadis muda cantik nan cerdas. berbeda dengan gadis-gadis lain seusianya yang gemar berdandan dan berdansa, Edith suka menulis. Dan kisah yang dia tulis adalah kisah hantu, padahal editornya menginginkan kisah cinta.

Ada dokter muda yang sepertinya naksir Edith, namanya Dr. Alan McMichael (diperankan oleh Charlie Hunnam), tapi ibu sang dokter tidak menyukai Edith.

Bangsawan Misterius nan Menawan

Suatu hari datanglah seorang pria bangsawan dari Inggris, bernama Sir Thomas Sharpe (diperankan oleh Tom Hiddleston), yang ditemani oleh kakak perempuannya, Lucille Sharpe (diperankan oleh Jessica Chastain). Sharpe datang ke Amerika mencari sponsor untuk membiayai usaha tambang tanah merahnya). Sharpe adalah seorang penemu, visionaris, tapi dia dianggap tidak memiliki kecakapan dalam berbisnis, dan permintaan sponsornya pun ditolak oleh Mr. Cushing.

Tak habis akal, Thomas Sharpe mendekati putri semata wayang Mr. Cushing. Dengan tampang rupawan dan karakter misterius, tidak sulit bagi Sharpe untuk menarik perhatian Edith. Ditambah lagi dengan memberikan perhatian lebih terhadap tulisan-tulisan gadis muda itu. Segera saja Edith jatuh cinta pada Thomas Sharpe.

Sumber: hitfix.com

Udang di Balik Batu

Sebagai seorang gadis cerdas, sungguh mengherankan Edith bisa dengan mudah terjerat pesona Sharpe. Tapi mungkin cinta memang buta.

Sejak awal penonton pasti sudah bisa menebak ada tujuan sebenarnya Thomas Sharpe mendekati Edith. Ya, tentu saja uang! Dan jika sang ayah tiada, tentu semua harta kekayaan keluarga Cushing jatuh ke tangan Edith.
Bukan sesuatu yang sulit ditebak juga bahwa ada yang tidak beres dengan kakak beradik Sharpe. Tapi sejauh apa kebusukan mereka, tidak akan saya sebutkan. Yang jelas itu membuat saya sangat muak.

Mansion di Atas Tanah Merah

Singkatnya, Edith menikahi Thomas Sharpe, lalu diboyong ke Inggris untuk tinggal di Allerdale Hall. Bangunan yang dulunya megah ini sekarang telah membusuk (sama seperti para penghuninya), dan Edith heran bagaimana cara Thomas dan Lucille merawatnya selama ini. Namun Edith bertekad untuk menghadirkan kehangatan dan cinta di rumah barunya ini. Sebuah tugas yang pastinya akan amat sangat berat.

Sumber: theatlantic.com

Tak butuh waktu lama bagi Edith untuk berhadapan dengan horor yang menghantui Allerdale Hall. Tengah malam dia tiba-tiba terbangun, dan karena Thomas tidak ada di sisinya, dia menyusuri koridor demi koridor untuk mencari sang suami. Tapi yang dia temukan malah sosok hantu menyeramkan yang mengejar-ngejarnya.

Di Allerdale Hall, kesehatan Edith perlahan-lahan menurun. Musim dingin menjelang, dan suatu hari Edith mengetahui fakta mengejutkan bahwa Alledarle Hall juga sering disebut sebagai Crimson Peak, karena pada musim dingin, salju yang turun akan menyerap warna merah tanahnya.

Antara Cinta dan Obsesi

Pada akhirnya, yang menjadi alasan kuat di balik tindakan seseorang, sesinting apa pun tindakan itu, biasanya adalah cinta. Atau obsesi... cinta yang berlebihan. Thomas Sharpe terobsesi pada alat-alat ciptaannya, sehingga nyaris tidak menyadari cinta sejati yang dia rasakan terhadap Edith. Lucille terobsesi pada adiknya sendiri, dan keinginan untuk merasa dibutuhkan. Alan melakukan tindakan heroik didorong oleh rasa cintanya yang tulus pada Edith.

Sedangkan Edith sendiri... entahlah apakah dia benar-benar mencintai Thomas Sharpe, atau hanya terpesona pada karakternya yang mirip dengan tokoh pria yang mungkin dapat dia temui di dalam kisah-kisah roman. Mungkin pada akhirnya dia terbangun dari fantasinya dan menyadari bahwa ketertarikan pada sesuatu yang misterius bisa mengarah pada tragedi dan kematian.

"Ghosts are real, that much I know."
--Edith Cushing

Sumber: theghostdiaries.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar