Rabu, 16 Maret 2016

Rooms. Penuh Hantu dan Rahasia.

Terkadang, mereka bukannya ingin menghantui...
Mereka hanya terjebak.
Bukannya ingin mengganggu, melainkan minta tolong.
Mereka ingin bebas dari kekangan penjara.


Rooms karya Lauren Oliver mengisahkan tentang sebuah rumah berhantu, dengan gaya penceritaan yang cukup berbeda. Sebelumnya Oliver telah terkenal dengan trilogi Delirium, yang ditujukan untuk pembaca dewasa muda (Young Adult/YA), dan juga Liesl & Po serta The Spindlers yang ditujukan untuk pembaca remaja (Middle Grade/MG). Rooms dia tulis untuk pembaca dewasa.

Bab-bab dalam Rooms dikisahkan dari sudut pandang tokoh yang berbeda-beda. Ketika tokohnya hantu, sudut pandangnya orang pertama, dan ketika tokohnya manusia, sudut pandangnya orang ketiga. Rooms juga dipecah ke dalam beberapa bagian sesuai jenis-jenis ruangan dalam rumah. Kisah dimulai di dapur, dan uniknya, diakhiri di dapur pula.


Setelah dia tewas

Rumah yang menjadi latar belakang kisah Rooms dimiliki seorang pria kaya raya bernama Richard Walker. Dia sudah sepuluh tahun bercerai dengan istrinya, dan sang istri pergi membawa kedua anak mereka. Mr. Walker pun menempati rumah itu seorang diri. Di pengujung hidupnya, Mr. Walker yang sakit parah tetap mendiami rumah itu, ditemani seorang suster yang merawatnya.

Setelah Mr. Walker tewas, sang istri dan kedua anaknya datang ke rumah itu untuk 'membereskan' semua yang perlu dibereskan. Dan tentu saja untuk mengklaim warisan mereka.


Mereka yang datang, para manusia

Tokoh-tokoh sentral dalam Rooms yang berwujud manusia adalah keluarga Walker. Meskipun kisah mereka dituturkan dalam sudut pandang orang ketiga, pembaca tetap dapat menyelami emosi mereka, dan merasakan bersimpati... jika ingin.

Caroline Walker

Mantan istri Richard Walker dan ibu dari dua anak, Minna sang kakak perempuan, dan Trenton sang adik lelaki. Caroline seorang pemabuk berat, bahkan setelah tahu organ dalamnya rusak parah. Seumur hidupnya dia telah berpura-pura dan berbohong... berpura-pura membenci suaminya, berpura-pura membenci rumah tempat mereka tinggal. Hingga akhirnya kebohongan itu menjadi sebuah kebenaran baginya, dan sudah terlampau sulit untuk berkata jujur.

Minna Walker

Anak sulung keluarga Walker. Perempuan cantik yang sepertinya seorang nymphomaniac. Waktu kecil dia pernah dilecehkan secara seksual oleh guru les pianonya... dan sepertinya gara-gara itu dia jadi stoic, nyaris tidak pernah lagi merasakan kebahagiaan. Bahkan kehadiran seorang bayi pun hanya sedikit mengisi kehampaan dalam jiwanya.

Trenton Walker

Anak bungsu keluarga Walker. Remaja tanggung yang kondisi fisiknya terbatas setelah terlibat kecelakaan lalu lintas. Dia merasa hidupnya begitu tidak bermakna, dan menghabiskan sebagian besar waktunya memikirkan cara bunuh diri paling asyik.

Mungkin karena dia punya pengalaman nyaris tewas, dia jadi lebih sensitif dan bisa berkomunikasi dengan hantu-hantu yang menghuni rumahnya.

Amy

Anak perempuan Minna. Karena masih kecil, ketika cerita disajikan dari sudut pandang dia, terasa sekali kepolosannya. Agak sedih karena sebenarnya Amy tahu perilaku seksual ibunya yang menyimpang. Tapi dia bisa berbuat apa?


Mereka yang tinggal, para hantu

Ada tiga hantu di dalam Rooms, tapi yang satu perannya minor. Dua lainnya memiliki kepribadian yang bertolak belakang dan sering bertengkar. Ditambah lagi mereka berasal dari zaman yang berbeda. Kisah mereka berdua disampaikan dari sudut pandang 'hantu' pertama, dan pembaca diajak menyimak masa lalu mereka yang ternyata penuh rahasia.

Alice

Hantu pertama yang terperangkap di dalam rumah itu. Sekilas dia sepertinya prim and proper. Istri yang pendiam dan patuh. Tapi di balik itu semua ada rahasia besar yang tragis dan menyakitkan. Rahasia itu baru diungkap di akhir cerita, dan jujur itu rahasia yang membuat saya marah pada sosok Alice, meskipun dia memiliki alasan kuat ketika melakukannya.

Karena sudah lama jadi hantu, Alice jadi punya kekuatan untuk mengintervensi dunia nyata. Sekali, dia membuat lampu di basemen pecah.

Sandra

Hantu kedua yang terperangkap di rumah itu. Seorang wanita yang kesepian, dan satu-satunya kawan akrab dia adalah minuman beralkohol. Sosok Sandra selalu blak-blakan dan senang mengejek Alice, tapi ketika dia diharuskan mengingat-ingat masa lalunya sendiri, dia jadi sentimentil. Ada kesamaan dalam dirinya dan Alice, tapi sepertinya Alice enggan mengakui hal itu.

Terjebak selamanya?

Seperti yang saya bilang di awal, Alice dan Sandra sebenarnya ingin bebas dari rumah yang memenjara mereka. Agar itu dapat terjadi, tentu mereka harus mau mengkonfrontasi rahasia masa lalu mereka, dan berdamai dengan diri sendiri.

Berbagai versi desain sampul Rooms.
Sumber: goodreads.com

Opini tentang Rooms

Rooms sarat drama dan emosi. Isu-isu yang diangkat cukup sensitif. Tokoh-tokohnya sakit jiwa... kecuali Amy. Menurut saya ini kurang cocok dibaca remaja... tapi mungkin masih oke untuk dewasa muda yang memang menggemari genre semacam ini.

Sebenarnya saya lebih suka desain sampul Rooms yang paling kiri dari gambar di atas (karena warnanya biru, tentu saja :p), tapi harganya lebih mahal daripada yang merah ini. Ya sudahlah, toh isinya sama saja kan? *hiks


Rooms karya Lauren Oliver saya ikutkan dalam tantangan membaca SEVENEVES no.1: Buku dengan cover merah. Ini tantangan dari Mas Jun yang sepertinya memang menyukai warna merah. Hehehe. Lebih lanjut tentang SEVENEVES bisa lihat tulisan saya di sini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar