Kamis, 31 Maret 2016

Tell The Wolves I'm Home

Pertama kali melihat buku ini direkomendasikan oleh Goodreads, saya cukup tertarik melihat desain sampulnya... dan rata-rata bintangnya yang di atas 4. Sebelum membaca sinopsisnya, saya mengira ini buku fantasi, mungkin fairy tale retelling-nya Little Red Riding Hood.


Ternyata bukan.
Ini buku coming-of-age, kisah seorang gadis remaja bernama June dan kecamuk perasaannya ketika menghadapi kematian Finn, pamannya.

Finn adalah orang terdekat June. Lebih dekat dari orang tuanya, lebih dekat dari kakak perempuannya, Greta.
Finn adalah seorang sahabat, satu-satunya orang yang mengerti June.
Perlu dicatat bahwa June adalah seorang anak "aneh." Maksudnya dia memiliki selera dan pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan anak seusinya. Dia tidak punya teman dekat di sekolah.

Finn mengidap penyakit yang membuat imunitas tubuhnya rusak (mungkin kalian tahu penyakit yang dimaksud?). Setelah tahu hidupnya tak akan lama lagi, Finn, yang seorang pelukis, mendedikasikan bulan-bulan terakhirnya untuk melukis June dan Greta. Namun hingga ajal menjemput, Finn masih merasa lukisan itu belum sempurna. Lukisan itu diberi judul Tell The Wolves I'm Home.

June

Seluruh kisah Tell The Wolves I'm Home diceritakan dari sudut pandang gadis berusia 14 tahun ini. Apa yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan, tumpah ruah... Sangat jelas dia menyanjung Finn. Menjabarkan segala macam kebaikan dan keunikan Finn. Deskripsi-deskripsinya seolah menjeritkan Lihat, inilah Finn. Cintai dia!

Wah, maaf June sayang, dia bukan tipe saya.

Tentang June sendiri... walaupun saya suka dengan gayanya yang selalu mengenakan rok dan sepatu bot ala zaman medieval, saya tidak terlalu suka dengan karakternya. Dia terlalu dibutakan oleh pesona Finn, sampai-sampai dia seolah tidak memedulikan semua orang lain, termasuk keluarga intinya sendiri. Yah, mungkin di satu sisi itu bisa dibilang gara-gara pubertas, dan June masih punya banyak waktu untuk belajar tentang kehidupan dan menjadi pribadi yang lebih baik. Saya penasaran June akan menjadi orang dewasa yang seperti apa.

Finn

Apa yang harus saya katakan tentangnya? Sudah muak membaca semua sanjungan June tentang pria ini. Sejujurnya saya kurang bisa bersimpati terhadap karakternya, dan saya cenderung merasa dia pantas mendapatkan apa yang dia dapatkan. Silakan saja sebut saya kejam.

Greta

Kakak perempuan June. Tokoh favorit saya. Dari awal, saya sudah bisa menduga seperti apa perasaan dan pikiran Greta sebenarnya, meskipun dia tidak terlalu banyak disebut-sebut. Sebaiknya saya tidak menulis lebih banyak tentangnya, karena itu salah satu bagian dramatis di pertengahan dan akhir kisah. Yang jelas ada salah satu ucapan Greta pada June yang membuat saya sangat tersentuh, seolah saya bisa ikut merasakan sakit hatinya Greta.

Greta benar-benar jago akting, hingga bisa meyakinkan semua orang bahwa dirinya kuat dan mandiri. Tak ada yang tahu betapa kesepiannya dia. Saya sungguh ingin merangkulnya dalam diam.

Toby

Pria ini adalah teman (sangat) dekat Finn. Dia mengidap penyakit yang sama dengan Finn. Setelah Finn meninggal, Toby berusaha menjalin hubungan dengan June, karena dia yakin bahwa di dunia ini hanya mereka berdua yang sangat mencintai Finn.

Awalnya cukup menarik mengikuti interaksi-interaksi rahasia antara June dan Toby (rahasia, karena keluarga June membenci Toby, menganggapnya penyebab Finn tewas), tapi lama-lama saya merasa mereka terlalu lebay. Dan saya kurang suka dengan hal-hal destruktif yang Toby tularkan pada June. Egois sekali.

1987

Ya, kisah ini terjadi pada tahun 1987, ketika orang-orang belum tahu banyak tentang penyakit yang diidap Finn dan Toby. Penyakit misterius. Orang-orang masih menganggap penyakit ini penularannya lewat sentuhan (mungkin?) dan mengucilkan siapa pun yang mengidapnya.

Di tahun 1987, belum marak ponsel. June tidak punya ponsel, sehingga ruang komunikasinya terbatas. Dia harus sembunyi-sembunyi menelpon Finn dari telepon rumah. Orang tua June pun tidak bisa dengan mudah menghubungi June, dan tidak tahu anaknya sembunyi-sembunyi bertemu dengan seorang pria dewasa.

Carol Rifka Brunt sendiri bilang bahwa kisah ini akan jadi berbeda sekali jika terjadi pada masa kini.

Serigala

Pembaca pastilah bertanya-tanya apa makna dari judul buku ini. Tell The Wolves I'm Home. Itu bukan sekadar kalimat yang Finn gunakan untuk menjadi judul lukisan terakhirnya. Di dalam kisahnya sendiri, tidak ada sosok nyata serigala. Meskipun June yang senang berjalan-jalan di hutan pernah mendengar lolongannya, lebih dari sekali.

Serigala di sini menjadi simbol dari berbagai emosi negatif yang June (dan semua manusia) rasakan dan berusaha dia hindari. Pada akhirnya mau tak mau dia harus "pulang" dan menghadapi emosi-emosi itu.


Ketika memesan buku ini di Periplus, saya berharap akan mendapatkan buku dengan desain sampul yang paling kiri dari desain di atas. Sayangnya harapan itu tidak terwujud... Sekilas terkesan sederhana ya, hanya didominasi warna hijau, hitam dan putih, tapi bagi saya amat menarik. Ada siluet teko, beruang, dan kepala seorang gadis (tentu saja gadis itu June). Dikisahkan bahwa Finn memiliki sebuah teko istimewa (bukan teko ajaib ya) bergambar beruang (sedang berdansa), dan setelah dia meninggal, teko itu diberikan pada June.

Kematian bukan akhir segalanya

Atmosfer Tell The Wolves I'm Home mirip dengan The Fault in Our Stars-nya John Green atau A Monster Calls-nya Patrick Ness. Kisah-kisah ini mengangkat tema yang cukup berat: kematian. Dan jika ada satu pelajaran yang bisa diambil, itu adalah fakta bahwa kematian bukan akhir segalanya. Seberat apapun kepedihan yang harus ditanggung akibat kematian orang terdekat, kita tidak bisa selamanya berkubang dalam air mata dan duka. Waktu akan terus bergulir, kita harus melanjutkan hidup... hingga akhirnya kematian itu menjemput kita juga.

Semoga kisah-kisah ini bisa membuat kita jadi lebih bijak menyikapi kehidupan dan kematian, dua hal yang tidak akan pernah bisa dipisahkan.


Berapa bintang yang saya berikan untuk June dan serigala-serigalanya?

Yah... saya kurang suka dengan segala drama menya-menye June, dan separuh awal buku saya lumayan bosan baca bukunya. Tapi paruh akhir cukup sarat konflik yang mengarah ke klimaks yang oke. Penyelesaian kisahnya juga bagus dan realistis, jadi secara keseluruhan buku ini memang amat layak baca.


Tell The Wolves I'm Home saya ikutkan dalam tantangan membaca SEVENEVES no.4: Buku dari penulis "baru" bagimu (baru di sini adalah kalian baru pertama kali membaca karya-karyanya). Carol Rifka Brunt adalah penulis baru bagi saya, dan pastinya juga demikian bagi semua orang, karena Tell The Wolves I'm Home adalah karya debutnya dan hingga kini dia belum menulis buku lain.

Cari tahu lebih banyak tentang SEVENEVES di sini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar